-->
Featured Article
Latest Post

Senin, 28 Mei 2012

-- SKETSA KISAH WINDA --




12.10 WIB
Ruang komputer, sekelompok mahasiswa bergerombol di depan monitor nomor 5.
“Nih, flashdisk ku, gak pake virus ya..!!”
“Tau gak sih, aku sampek beli flashdisk baru gara-gara flashdisk yang kemaren kalian pinjem minta ampun virusnya, dataku hilang sukses..” Saski mengomel
“Beres”, ujar sang operator
“Din, tugasnya mana? Kemaren kita berdua lo ya yang ngerjain, jadi jangan lupa tuliskan juga namaku di halaman awal. Winda Firdausi Clara.”
“Ho oh…wes ta lah Sist, beres…”, sahut Dina

Riuh sekali acara penyatuan tugas kelompok hari itu, dan memang selalu ramai, ruang komputer gratis dengan akses internet yang juga gratis, khusus hanya buat mahasiswa fakultas ini. Di tengah keramaian tugas beserta kesibukan mengcopy editan terakhir buat bahan presentasi esok hari. Melengkinglah suara dari benda kecil, hape sejuta umat ……..Bangkitl`h negriku…harapan itu masih ada….!!.........

“Wooy…bangkit berbunyi tuh, angkat. Buruan, jelek tau nadanya, aneh!! “ Saski nerocos
“Iya..bentar Sas, dikit lagi selesai ni”, sahut Winda
“Angkat bentar napa? Nadamu lo gak gaul ah…”sambar saski
“Dasar…cerewet ….”, Winda pasang muka masam

“Waalaikumsalam, Iya halo..ini Winda, ya ya…trus? Jadi? Baik nanti sore di mushola, temen2 biar saya hubungi. Syukron”
Sedetik setelah itu,
----- 1 message received ----
Astaghfirullah….kemudian dengan cepat memencet keypad dan : send

“Jieh…di telpon ma mas ketua itu rek…”goda Saski “Sampek speechless gitu..”
“Napa Win? Kamu bicara apa sih…sampai se speechless itu? Kamu di telpon ma mas ketua itu kan? Soalnya aku mendengar kata2 planet mu ‘surkan’ ya…eh salah syukron..”.. Saski cekikikan

“Heh,,,,”Winda menghela nafasnya, “Bukan gitu Sas, negatif melulu kamu ini, emang barusan dari mas Avis, aku di telpon karena ntar ada syuro di mushola. Yang bikin aku speechless ada sms dari temenku di Jakarta, dia kumat lagi, sms negatif tentang jilbaber…” jawab Winda.

“Owh…maap deh, eh tuh, sepuluh menit lagi ada kelas, aku ke atas dulu ya..”, Saski menyahut
“Nitip tas dunk Sas, carikan tempat buatku, aku mau ke mushola bentar”, Winda menyerahkan tas nya pada Saski
“Ngapain? Sholat lagi? Bukannya tadi udah jamaah ma aku??“, Saski melongo

“Ndak, sedang pengen wudhu lagi…biar adem”
“Thanks Sas…ukhti Saski….”, ujar Winda sambil tersenyum

“Wooy…gak pake bahasa planet kallee….”, Saski merengut

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kak, nanti SMP nya kakak milih dimana? Aku diminta ke SMP 1 ma ayahku, wah, kita bakalan sekelas lagi gak ya Kak?”, Winda bertanya
Kakak ke Bogor, sekeluarga kami pindahan ke Bogor juga”, sahut kakak
Lhoh, kok ?”, dengan terkejut dan berbalik muka ke kakak
Iya maaf dek, belum sempat bilang kamu, nih, sebagai permintaan maaf, kakak belikan Silv*r Que*n Kesukaan mu...”
Winda terdiam....
Kakak...terimakasih ya atas semua bantuan kakak selama ini.....”, Winda menerima cokelat itu

Ehh...kok jadi melow gini?”
Tenang aja, suatu saat aku balik kok, jangan pernah lupakan ‘istana’ kita ini ya....”, kakak tersenyum
Sip !! Istana pasir putih akan selalu di kota ini....”, sahut Winda sambil menunduk
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Gemericik air wudhu di mushola terdengar dari sebuah kran, maklum saja, ada jadwal kuliah di seluruh kelas pada jam 13.00 WIB. Meski sepi, Winda tetap memakai kerudungnya dengan rapi dan memasang kaos kaki nya, Winda jadi ingat pernah Saski bertanya, “Ribet banget sih, kan basah lagi kaos kaki nya?” tanya Saski

Caranya dong, ya mesti basah dikit-dikit lah...tapi kan ga keliatan aurat ku, coba deh kamu liat para cowok yang berbaris rapi di depan bagian putri, wah, bisa keliatan kakiku ma mereka.” jawab Winda

Wajar kali, habis wudhu kan gitu, lagipula cuman sekilas, mana sempat mereka liat?” tangkis Saski

Saski Ulinnuha...intinya kan pada auratnya sayang, bukan pada hal yang biasa atau tidak.. kalau kamu bilang biasa, kerudung dan baju panjang itu juga gak biasa dipakai di Indonesia, masak ga mau juga pakainya? Gak kan ya?” Mbak Era menimpali dengan senyumnya.

Mbak Era adalah senior dua tingkat di atas kami, beliaulah yang menjemputku ketika pertama kali aku menginjakkan kakiku di kota pelajar ini, Subhanallah...kalem, penyandang IPK tertinggi di angkatan, dan kerudungnya rapi lagi..!! rapi menutup dada hingga pinggulnya, yang buat aku manut pada beliau adalah karena kesabarannya dalam mengarahkan adek2 yang baru mengenal Islam sepertiku, setidaknya mengenal secara pemahaman....aku dulu hanya menjalankan Islam sebatas ibadah ritual saja, belum ada kenikmatan yang kurasakan dalam agama ini, seperti yang kurasakan sekarang.

Ayo dek, udah adzan,” tambah Mbak Era

Oh Eh, iya Mbak..”jawab ku dan Saski bersamaan


Winda tersenyum sendiri mengingatnya, mbk Era sudah lulus dan kembali ke kotanya, membangun kota kelahirannya katanya...dan sekarang Winda menggantikan posisinya.

Hp Winda bergetar lagi,
---- 1 message received ----
dan wajah nya langsung berubah sedih
Winda berhenti sebentar untuk membalas sms tersebut sebelum masuk ke kelas : send

Astaghfirullah kakak...........ucapnya lirih
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Syuro di Mushola,
Baiklah kesimpulan syuro hari ini adalah memberikan pelayanan yang terbaik buat adek-adek mahasiswa baru, anggaplah mereka adalah saudara dan saudari kalian sendiri, adik kandung kalian sendiri,” Mas Avis menutup syuro hari itu, “Ada tambahan?”

“Tambahan, jangan lupa jemput bola, menghubungi adek-adek dari SMA asal kalian dan menawarkan bantuan untuk daftar ulang, jangan menunggu mereka yang menguhubungi kita, ingat-ingat, onta merah sedang menanti kalian,” lanjut Winda dengan semangat.

“Daftar kos dan kontrakan bisa menghubungi saya atau ukh Winda, lebih baik lebih banyak yang stand by di luar untuk mengantar adek-adek ke kosan ya,” timpal Azril

Ikhwah fillah.....
Baiklah, koordinasi selanjutnya mohon menghubungi masing-masing PJ
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

---- 1 message received ----
Win, pulang kapan nduk? Sudah tiga bulan kamu gak pulang
Adekmu mau ujian, bantuin belajarnya
Kemarin kakak ke rumah, dia nyariin kamu, kalian gak pernah smsan lagi to?

Winda membalas sms ibunya,
Iya Bu, pekan depan Winda pulang, kangen Andi, Andi telpon lama buat minta Winda ngajarin integral matematikanya. Winda jarang lagi sms maupun telp dengan kakak Bu.
---- 1 message sent ----

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Winda, nanti daftar ulang nya sama-sama ya, “
Oke Kak, jemput ya ?”
Hari itu kami berkumpul lagi, kakak menepati janjinya, melanjutkan SMA nya di kota ku.
Tiga tahun kami lalui dengan suka duka dan tentu saja banyak cerita,
Kami mengambil jurusan yang berbeda, kakak memilih IPS dan aku IPA
Hubungan kami semakin dekat meski kami tidak sejurusan, kami sering berkunjung kerumah masing-masing, begitupun kedua orang tua kami, sangat menerima persahabatan kami.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Setelah beberapa hari Winda berpikir, dia memutuskan menghubungi Mbak Era, via sms.

Assalamualaikum...Mbak Era, sedang sibuk gak? Winda mau curhat dikit, hehehehe
Waalaykumsalam, OK jam 2 mbak telfon nanti

Hape ku berdering, 14.05 WIB
Mbak Era : “Assalamualaykum. Halo Winda sayang....”
Winda : “Waalaykumsalam. Iya Mbak Era.”
Mbak Era : “Kaifa haluk dek?”
Winda : “Bil khoir mbak..”
Mbak Era : “Oya, ada apa tadi, katanya mau curhat ?”
Winda : “Iya nih mbak, sedang galau karena teman”
Mbak Era : “Oh ya? Winda bisa galau juga??”
Winda : “Eh, Winda manusia juga lah mbak, hihihihi”
Winda : “Mbak, memangnya beda ya proses pengkaderan tiap kampus? Kok temanku tidak bisa tersibhghah sih mbak? Kata mbak dulu, manusia itu punya dua kecenderungan, baik dan buruk, dan sebenarnya secara fitrah manusia suka dengan yang baik kan mbak?”

Mbak Era : “Iya bener, wah, udah jadi mentor senior nih rupanya, trus masalahnya apa dek? Tentu saja pengkaderan tiap kampus akan berbeda...”

Winda : “Mbak Era pasti sangat hafal dengan cerita tentang kakak yang sering Winda ceritakan.. kakak sekarang benci Winda Mbak...karena dia pernah mengalami hal yang tidak enak dengan orang seperti kita, para jilbaber. Kebetulan sempat Winda menitipkan kakak di teman SKI yang kuliah di universitas yang sama dengan kakak, awalnya kakak sangat enak diajak ngaji dan ikut kajian, tapi suatu saat dia sudah tidak mau lagi Mbak, bahkan untuk diajak sholat jamaah pun dia tidak mau, dan mbak tahu? Setiap kali ada berita miring tentang Islam dan lainnya, pasti kakak sms Winda dan menyamakan kegiatan Winda sekarang dengan hal tersebut.”

Mbak Era : “Dek, yang namanya hidayah itu tidak bisa muncul di setiap orang, kalaupun masih belum muncul sekarang dan dia memusuhi kita, sikap terbaik adalah membalas nya dengan yang lebih baik, anti sudah cari tahu awal mula kakak anti itu menjauh?”

Winda : “Itu Mbak yang mau Winda cari tahu...”
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sebulan setelah Winda menghubungi Mbak Era, Winda menepati janjinya untuk pulang.
Sepanjang perjalanan dia terus menerus mengirim sms pada kakak.
Namun tidak kunjung dibalas.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi rumah kakak terlebih dahulu.

Sesampainya di rumah kakak, Winda hanya menerima sepucuk surat yang dititipkan kakak kepada bibinya.
“Kakak keluar rumah, gak tahu baliknya kapan, nanti bibi sampaikan kalo Winda kesini”, ujar Bibi.
“Terima kasih Bi, Wassalamualaikum...,” Winda menjawabnya dan pamit pulang.

Di rumah, Winda membaca surat tersebut,

Teruntuk : Adek Winda

Assalam Wr. Wb.
Winda sorry, aku ndak bisa nemuin kamu. Maafkan juga mungkin beberapa waktu kamu juga tidak bisa menghubungi aku Win. Kakak hanya berpesan kamu jangan dekat2 dengan para jilbaber, jangan sampai kamu mengalami hal yang sama dengan kakak. Kakak sayang Winda...
Mungkin kamu penasaran kenapa kakak sangat benci mereka, mereka tidak punya hati Win, mereka pemaksa, mereka tidak menghargai kakak mu ini. Mungkin kamu akan percaya mungkin pula tidak,
Kamu tahu kalau kakak sebenarnya sangat nyaman ketika pertama kali mereka ajak ngaji, dan kamu pun tahu itu, namun ada seorang senior yang tinggal serumah dengan kakak yang sangat kakak benci. Dia selalu memarahi kakak terang-terangan di depan teman2, tentang tingkah laku kakak yang memang berbeda dengan mereka, kakak tahu itu salah, namun tolong berilah waktu kakak untuk berubah, bukan dengan memaksa seperti itu. Bahkan yang paling kakak benci ketika kakak dikucilkan, tidak dianggap, hanya karena kakak berbeda. Lantas kenapa dulu mau menerima kakak jika akhirnya mereka menyakiti seperti ini?
Dan banyak hal lainnya Win yang tidak mungkin kakak ceritakan, kakak anggap Winda berbeda, Winda baik dan pengertian. Berbeda dengan para jilbaber itu, meskipun kamu sekarang sudah lebih condong ke mereka. Maaf atas sms kakak selama ini, namun kakak akan terus mengsms untuk mengingatkan Winda, bahwa mereka itu jahat, hati-hati ya Win...

Wassalam Wr. Wb.

Rensyana Inda
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Begitulah mbak....,” Winda bercerita kepada Mbak Era

Iya dek, memang kadang ada beberapa da’i yang tidak sabar memanen hasil dakwahnya. Mereka inginnya objek dakwah mereka langsung berubah, mereka mengabaikan kondisi dasar objek dakwah mereka. Tapi sekali lagi hidayah juga berperan disini dek, ketika Allah memilih kita menjadi pejuang dakwahNya, jagalah itu, karena juga tidak semua orang bisa merasakan manisnya amanah, manisnya halaqah, manisnya ukhuwah....” ujar Mbak Era

Sayang saja Mbak, kakak tidak ikutan,”, Winda menghela nafasnya.

Siapa bilang? Ni anti juga gak sabaran ternyata...
Dekatilah lagi dek, jangan biarkan hidayah Allah menjauh justru karena adanya kita, salahnya kita dalam menggunakan pendekatan. Inipun berlaku untuk adek-adek anti juga. Pahamilah mereka dengan cara yang mereka mau, bahasa mereka dan ketika memang mereka baru mengenal Islam dari awal, temanilah mereka tanpa lelah, karena mungkin saja dari situlah dia merasakan ukhuwah, merasakan indahnya Islam...”
Kadang kala kita memang lelah, banyak sekali yang hars dipikirkan, namun kedekatan kitalah kuncinya, sembari mendoakan di sela sholat-sholat kita. Dan jangan seringkali mempersulit, permudahlah mereka, ajarkan dari hal-hal kecil dan sama, jangan malah mencari perbedaan, karena hakikatnya Islam harus mendahulukan yang pokok, bukan cabangnya dulu. Insyaallah anti sudah sangat paham tentang itu dek...”, jelas Mbak Era panjang lebar.

Iya Mbak, jazakillah atas bantuannya, coba kalau kakak Rensy kenalnya ma Mbak Era, pasti gak gini, hehe...”, Winda mengakhiri telpon nya siang itu. “Wassalamualaikum Mbak...”

“Waalaikumsalam warahmatullah... InsyaAllah dengan kenal anti malah nanti akan lebih baik dari mbak...”.jawab Mbak Era.

---- Dan memang dari puluhan atau ratusan orang yang ingin kita dekati agar ikut serta dalam dakwah ini, tidak semuanya akan lolos saringan Allah, tapi bukan tugas kita memilih yang mana yang lolos dan mana yang tidak. Kita hanya perlu berbuat yang terbaik buat mereka. Hingga nanti Allah sendiri yang akan memilihkan mereka untuk kita. Perkuatlah diri senantiasa dengan sabar dan sholat ----


************************************ END *********************************


Kamis, 05 April 2012

SEKOLAH ISLAM TERPADU SEBAGAI PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA AWAL ANAK USIA SEKOLAH*


PENDAHULUAN
            Munculnya berbagai lembaga pendidikan berlabel Islam di tanah air pada periode awal tahun 2000 memang cukup memberikan angin segar bagi para orang tua yang khawatir terhadap kondisi pergaulan putra – putrinya di bangku sekolah. Memang tidak kita pungkiri sebelumnya telah ada beberapa organisasi Islam yang juga menggarap ladang pendidikan ini secara kontinu. Namun kemunculan lembaga pendidikan berlabel Islam akhir – akhir ini yang semakin banyak dan tidak hanya dipegang oleh organisasi Islam tertentu agaknya memang hal tersebut berperan sebagai respon dari masyarakat yang membaik terhadap lembaga pendidikan berlabel Islam (sekolah Islam).
            Sekolah Islam sebelumnya sempat mendapatkan stigma negatif dari masyarakat secara umum. Masyarakat menilai bahwa sekolah Islam adalah kasta kelas dua, jika putra – putrinya tidak masuk ke sekolah umum barulah mereka mau memasukkan putra – putri mereka ke sekolah Islam. Alih – alih untuk membuat putra – putri mereka lebih baik dengan menuntut ilmu di sekolah Islam, beberapa dari orang tua siswa masih berpikir, daripada tidak bersekolah, lebih baik di sekolahkan di sekolah yang Islam saja. Jikalau niatnya saja sudah seperti itu maka output yang dihasilkan sudah bisa kita tebak seperti apa nantinya.
            Output pendidikan Islam yang sebenarnya dapat kita baca dari pengertian Ibnu Qayyim Al Jauziyah, beliau mengartikan pendidikan yang seringkali disebut dengan tarbiyah. Tarbiyah menurut beliau, mencakup tarbiyah qalb (pendidikan hati) dan tarbiyah badan secara sekaligus. Antara hati dan badan sama-sama membutuhkan tarbiyah. Keduanya harus ditumbuhkembangkan dan ditambah gizinya sehingga mampu tumbuh dengan sempurna dan lebih baik dari sebelumnya (Al Jauziyah, 2011). Dengan pendidikan yang seimbang (tawazun) antara hati dan akal maka akan didapatkan kualitas sumber daya manusia yang luar biasa sesuai dengan ciri seorang muslim yang sempurna.
            Namun sayangnya semakin tahun kepekaaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan ini semakin menurun, Menurun secara substansial dari pengertian pendidikan yang telah disebutkan di atas. Kita bisa melihat dari target yang ditetapkan pemerintah dan secara otomatis menjadi pola pikir dari orang tua murid, yaitu nilai dengan ambang batas tertentu. Tahun 2011 formula nilai akhir penentu kelulusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sederajat, serta sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat, ditetapkan dengan menggabungkan nilai mata pelajaran ujian nasional (UN) dengan nilai sekolah. Nilai akhir adalah pembobotan 60 persen nilai UN ditambah 40 persen nilai sekolah. Syarat kelulusan lainnya adalah nilai tiap mata pelajaran minimal 4,00 dan tidak ada ujian ulangan. (Kompas, 2011). Targetnya masih berupa nilai – nilai atau angka – angka, belum ada targetan terkait akhlak dari peserta didik. Targetan lain, akhlak misalnya yang sebenarnya tidak harus masuk ke dalam syarat kelulusan itu ternyata juga tidak sepebuhnya dipahami oleh seluruh staf pengajar di sekolah – sekolah umum. Mereka lebih mementingkan pintar secara akal dan lulus dengan nilai yang memuaskan serta menambah nilai jual dari sekolah yang bersangkutan jika lebih sedikit persentase yang tidak lulus.
            Padahal jika dilihat lebih mendalam, stigma tentang kualitas output siswa dari sekolah Islam tidak sepenuhnya benar. Di novel Laskar Pelangi (Hirata, 2008) yang juga mengecap pendidikan dasarnya di sekolah Islam Muhammadiyah Belitong mengalami pematangan akhlak disana, karena sekolah tersebut tidak hanya berdasarkan nilai angka, tapi hati lah yang harus juga ikut ‘disekolahkan’. Akhirnya dia juga menjadi peraih beasiswa ke luar negeri tanpa mengesampingkan pendidikan akhlak yang di peroleh di sekolahnya dulu. Lain cerita seperti pengarang novel Negeri Lima Menara, Achmad Fuadi yang awalnya ‘dipaksa’ untuk melanjutkan pendidikan di sekolah Islam pondok pesantren modern Gontor, Ponorogo. Keinginan ibunya untuk menjadikan dia seorang sosok intelektual religius seperti Buya Hamka telah mengantarkannya merasakan pendidikan yang disampaikan dengan ikhlas oleh para kyai nya di pondok (Fuadi, 2010). Bahkan jargon yang sangat kita kenal dan menjadi kata – kata motivasi dari novel ini adalah ‘Man Jadda Wa Jada’ yang artinya barangsiapa bersungguh – sungguh pasti dia akan berhasil/sukses. Hal ini yang tidak menghalangi pengarang dan juga seluruh siswa di sekolah Islam untuk menjadi seorang pribadi yang sukses dalam urusan dunia dan juga agama. Dalam ungkapan salah seorang sahabat pun juga disebutkan “Bersungguh – sungguhlah kalian dalam urusan agama seolah – olah kalian mati esok pagi dan juga bersungguh sungguhlah dalam urusan dunia seolah engkau akan hidup selamanya”.
            Sekolah Islam yang sekarang sudah mulai ‘terasa’ bedanya di masyarakat, penerimaan mereka terhadap sekolah Islam mulai meningkat, terutama pada sekolah Islam terpadu. Pengajaran di sekolah Islam terpadu yang cukup menarik membuat anak didik tidak jenuh dan lebih mengenal Islam dengan menyenangkan. Salah satu contohnya lewat berbagai permainan yang disisipi hikmah, mengajari hafalan dengan lagu anak – anak tidak lupa pula penyampaian cerita sejarah Islam dan para nabi dengan bermain peran dan lain sebagainya. Lebih menarik adalah pengajaran moral yang diterapkan dengan cara learning by doing dan juga diajarkan secara langsung oleh ustadz atau ustadzah mereka. Fokus utamanya adalah untuk membentuk akhlak yang Islami (Fauziddin, 2009).  
Makalah ini mencoba untuk memberikan arahan mengenai lembaga pendidikan yang dapat membantu anak – anak mengerti Islam dengan menyenangkan. Selain itu juga menggali keunggulan apa saja yang ada pada sekolah islam terpadu tentang sistem pengajaran dan penanaman akhlak kepada anak didiknya.
PEMBAHASAN
Sekolah Islam Terpadu menjadi sebuah fenomena dalam pendidikan kita. Pertama, secara historis memang bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari nilai-nilai religius yang menjadi sumber dan daya kekuatan bangsa ini. Sesungguhnya yang memperjuangkan bangsa ini di garis depan adalah kaum santri yang siap berjuang dan berperang. Tapi, tidak semua ternyata memegang senjata, ada diplomat ulung seperti K.H. Agus Salim, Guru dari para Founding Fathers kita HOS. Cokroaminoto, dua pendidir Ormas besar yang bertujuan untuk kemerdekaan bangsa, K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), negarawan seperti M. Natsir atau seorang tokoh militer bintang lima seperti Jenderal Soedirman dan begitu banyak lagi. Mereka adalah para tokoh pesantren dan santri yang berjuang berdasarkan kemampuan dan kapasitas masing-masing.
Kedua, pada dasarnya manusia selalu ingin kembali kepada fitrahnya. Allah SWT. telah menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik diantara makhluk-makhluknya yang lain yang mampu berfikir. Kecenderungan manusia mempengaruhi apa pilihannya. Setelah sekian lama manusia Indonesia dicekoki dengan sistem sekuler walau disamarkan membuat jiwa bangsa ini memberontak. Upaya-upaya untuk mencerabut bangsa ini dari akar budayanya ternyata tidak berhasil. Masyarakat bosan dengan Sistem Pendidikan Nasional dan model pendidikan umum yang terus memisahkan antara pendidikan agama (Islam) dengan pendidikan umum. Itulah fitrah manusia yang ingin memenuhi relung jiwanya dengan cahaya Allah.
Ketiga, Sekolah Islam Terpadu menawarkan hal yang lebih dibandingkan dengan pendidikan umum. Selain mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum, Sekolah Islam Terpadu juga memberikan siswanya skill sesuai dengan bakatnya masing-masing. Selain itu, pola pembelajarannya juga sedikit berbeda dan memang mengakomodir hak-hak siswa sebagai penuntut ilmu. Hal ini sebenarnya mencoba menjawab tantangan zaman yang ke depan akan masuk para era globalisasi dan perdagangan bebas. Anak-anak Indonesia harus sudah dibekali cara-cara manajerial, skill dan sebagainya yang menunjang dirinya untuk mampu bersaing.  Tentunya membentuk karakter mereka bukan untuk menjadi tenaga kerja tetapi yang membuka lapangan kerja. Ketiga hal itulah yang membuat Sekolah Islam Terpadu sangat diminati oleh sekian banyak masyarakat Indonesia saat ini (Sumantri, 2011)
                Ketiga hal di atas bisa menjadi dasar untuk mencoba menerapkan sistem pembelajaran yang dilakukan di sekolah islam terpadu, sehingga tidak melulu nilai angka yang diprioritaskan. Tapi mulai mengarah kepada nilai akhlak yang dimiliki anak didik nantinya. Fakta di lapangan mengenai cara mendidik di sekolah umum sangat berbeda dengan sekolah Islam terpadu yaitu dalam ‘mengolah’ anak didik mereka menjadi sumber daya manusia yang juga pintar secara perilaku. Misalnya saja, tidak kita temukan semacam permainan berhikmah di sekolah umum, berdoa pun tidak bisa dilafalkan dan dibenarkan panjang pendek serta makhorijul hurufnya karena dalam 1 kelas mungkin ada siswa yang beragama lain. Selain itu, yang lebih penting adalah seluruh mata pelajaran mulai dari eksak sampai sosial disampaikan tanpa bisa terpadu dengan agama Islam, hanya sesuai dengan capaian tersampaikannya materi tersebut.
            Masyarakat mulai sadar dan melihat bahwa pendidikan di sekolah dasar merupakan pondasi dari pendidikan selanjutnya. Pembentukan kecerdasan tidak hanya dinilai dari umum tapi juga agama, khususnya agama Islam. Masa pendidikan dasar adalah masa pendidikan moral. Hal ini yang akan menentukan bagaimana anak berkembang. Kemerosotan moral yang terjadi pun juga disebabkan salah satunya oleh penanaman nilai agama pada anak usia dini yang diabaikan (Dewi, 2010).
            Berbagai metode pengajaran di sekolah Islam terpadu yang menarik siswa untuk lebih paham dan kemudian mengikuti apa yang diajarkan ustadz/ustadzah mereka antara lain sebagai berikut : kelas diawali dengan membaca doa akan belajar, syahadat, surat fatihah, murojaah (mengulang hafalan), ikrar, tata tertib, dan absensi. Selanjutnya pembelajaran materi Al islam dengan menggunakan  pendekatan belajar melalui bermain.
            Kelebihan yang dimikili oleh sekolah Islam terpadu yaitu prinsip learning by doing.  Siswa terlibat langsung dalam, pengalaman yang konkrit dengan suatu materi. Aktivitas di mana mereka berpartisipasi dengan sesuatu yang relevan dan penuh arti. Kemudian juga adanya reward and punihsment yang mendidik, jika salah seorang anak didik melakukan kesalahan maka respon yang dilakukan oleh ustadz/ustadzahnya bukanlah memarahi mereka, justru mengajak dialog hingga anak didik tahu benar dimana letak kesalahan yang dia lakukan. Dengan cara ini diharapkan anak didik tidak mengulangi kesalahannya lagi karena mereka telah paham bahwa perbuatannya tidak benar. Pembiasaan lainnya lewat contoh pun juga berlaku sebaliknya, jika salah seorang pengajar melakukan kesalahan yang diketahui anak didiknya, misalnya ketika masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka pengajar lainnya akan menegur dan menanyakan kepada anak didik lainnya bagaimanakah seharusnya perilaku yang benar. Dari kedua contoh tersebut dapat dilihat bahwa sang anak didik benar – benar mendapatkan contoh nyata yang harus mereka lakukan, sehingga mereka lebih mudah menirunya.
            Dalam sekolah islam terpadu, guru tetap memegang peranan yang  penting dalam proses pendidikan, yaitu dakam penanaman  nilai.  Hal  ini  sesuai dengan yang diungkapkan Chomaidi bahwa “peranan guru bukan sekedar komunikator nilai, melainkan sekaligus sebagai pelaku  dan  sumber  nilai  yang  menuntut  tanggung  jawab  dan  kemampuan dalam  upaya meningkatkan  kualitas  pembangunan manusia  seutuhnya,  baik yang  bersifat  lahiriyah maupun  yang  bersifat  batiniah  (fisik  dan  non  fisik). Artinya yang dibangun adalah karakter, watak, pribadi manusia yang memiliki kualitas  iman,  kualitas  kerja,  kualitas  hidup,  kualitas pikiran, perasaan, dan kemauan (Chomaidi, 2005)”. Guru di sekolah islam terpadu berperan sebagai orang tua siswa saat di sekolah, bahkan pengawasan siswa ketika di rumah pun juga masih dipantau lewat orang tuanya, adakah perubahan positif dari anak didiknya.
PENUTUP
            Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa sekolah Islam terpadu merupakan alternatif yang baik untuk mencetak anak didik yang cerdas secara akal dan juga hati. Orangtua yang khawatir akan kondisi masa depan akhlak putra – putrinya yang dalam hal ini dapat menentukan kondisi bangsa di masa depan dapat mulai untuk beralih sudut pandang mengenai pendidikan yang terbaik untuk buah hatinya.
Melihat respon yang cukup baik dari masyarakat dan juga banyaknya bermunculan sekolah Islam terpadu, agaknya pemerintah juga perlu memberikan perhatiannya pada lembaga ini. Akan lebih baik lagi jika beberapa model pengajaran sekolah islam terpadu juga diterapkan pada pengajaran mata pelajaran di sekolah umum.

*) Makalah ini dibuat  sendiri dalam strata pendidikan S2 PAI :D
DAFTAR PUSTAKA

Al-Jauziyah, Ibnu Qayim . 2011. Ighatsanu Lahfan min Mushahidis Syetan, (Kairo: tp, 1320 H), Juz I, hal 46.  .http://majelispenulis.blogspot.com/2011/07/pendidikan-islam-persepsi-ibnu-al.html

Chomaidi.  “Peranan  Pendidikan  dalam  Upaya Meningkatkan  Kualitas  Sumber Daya  Manusia”.  Disampaikan  di  depan  Rapat  Senat  Terbuka  UNY,  15 Oktober 2005.

Dewi, Citra. 2010. Implementasi Sistem Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ar Risalah Surakarta. Tesis Prodi Teknologi Pendidikan UNiversitas Sebelas Maret. Surakarta.


Fauziddin, Moh. 2009. Pembelajaran Agama Islam Melalui Bermain Pada Anak Usia Dini (Studi kasus di TKIT Nurul Islam Pare Kebupaten Kediri Jawa Timur) http://repository.upi.edu/operator/upload/t_pd_0704865_chapter4.pdf
 
Fuadi, Ahmad, 2010. Novel Negeri Lima Menara. Jakarta : Penerbit Gramedia

Hirata, Andrea. 2008. Novel Laskar Pelangi. Jakarta : Penerbit Klub Sastra Bentang 

Kompas, 2011. Penting, Syarat Lulus 2011 Berubah. Edisi 04 January 2011.http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/04/penting-syarat-lulus-2011-berubah/
 
Sumantri, Elly. 2011. Fenomena Madrasah Bubar Dan Islamic Full Day School. /http://ellysumantri.blogspot.com/2010/06/sekolah-islam-terpadu-fenomena.html) 




Senin, 16 Januari 2012

KETERGESAAN KITA, KEDANGKALAN KITA*


            Manusia kadang bertanya tentang eksistensi diri dan fungsinya dalam kehidupan. Beberapa hal ‘aneh’ yang dilakukan oleh banyak manusia misalnya seperti ini : Orang Indonesia (kota) membuat rumah yang tertutup rapat (yang otomatis panas) kemudian membeli AC, beberapa AC dipasang di kamar mereka dan mereka kedinginan kemudian membeli selimut yang tebal seperti yang dipakai di negara dengan musim dingin biar tidak kedinginan. Apa tujuannya membeli AC ? mencari rasa dingin, lalu kedinginan, lalu berselimut. Semua hal ini mencerminkan betapa kurang bersyukurnya manusia terhadap anugerah Allah Swt.

          Anugerah Allah Swt. di negara tropis seperti Indonesia adalah suhu panas musim kemarau, namun selain itu kan masih ada waktu2 berangin (banyak angin). Para penjajah dulu membangun rumah yang sangat lebar dan tinggi, begitu juga jendelanya. Kita sekarang malah membangun rumah yang beratap rendah, pintu sempit hampir tanpa jendela, trus memasang AC.
Dalam dunia media dan telekomunikasi, dulu nenek atau kakek kita pergi ke layar tancap, atau kedua orang tua kita pergi ke bioskop dengan mengajak anak-anaknya agar bisa menonton bersama. Sekarang setelah ada televisi yang beremote control, malah saluran televisi dijadikan rebutan channel, bukan diambil nilai kebersamaannya. Bahkan beberapa keluarga membeli TV khusus untuk masing – masing kamar.

         Berlanjut ke teknologi komunikasi yang berkembang pesat. Orang Indian pernah meramalkan “Ada suatu masa kalian akan mendengarkan dinding berbicara”, dan ternyata benar, perwujudannya adalah pesawat telepon yang sering kita gunakan. Teknologi komunikasi yang sedang in pada masa ini adalah Black Berry (BB) (dan sebenarnya merk lain yang sama fungsinya dengan BB). Terdapat beberapa pengalaman negatif dan positif tentang BB. BB memang mempercepat urusan, namun beberapa kali justru menghambat pekerjaan. Terlalu konsentrasi pada pada alat seukuran genggaman kita ini, urusan besar bisa saja terbengkalai. Sebelumnya penulis rajin buka email, menjawab, memfollow up, semua urusan berjalan lancar. Setelah mememiliki BB semua email dan info lainnya (FB, Twitter) langsung masuk, apapun kondisi penulis saat itu, pasti langsung direspon (soalnya berbunyi ‘cling’ terus). Karena informasi sudah diterima, akhirnya penulis tidak lagi rajin membuka email dll, padahal yang paling penting adalah bagian memfolow up i nya. Sayangnya keputusan untuk tidak rajin membuka email ini berdampak pada terlambatnya mengerjakan hal-hal lain. SEMUA INFORMASI DIRESPON SECARA DANGKAL DAN CEPAT lewat media ini. Dan sayanganya semua orang mengira itu sudah cukup. Tak ada kedalaman berpikir, merenungkan respon, merenungkan jawaban yang lebih bernas. Semua terkesan cepat, dangkal dan ringkas.

        Di buku terbitan Mizan berjudul “Shallows” (Orang - Orang Dangkal atau Kedangkalan) menggambarkan bagaimana manusia dikendalikan oleh gadget. Ketika sedang melakukan suatu hal kemudian BB disamping kita dan berbunyi ‘cling’ maka kita cenderung akan meresponnya. So, semua pekerjaan utama terbaikan. Kata Ninok Leksono, wartawan senior Kompas, “Dibutuhkan waktu setidaknya 15 menit untuk kembali konsentrasi pada apa yang sebelumnya kita kerjakan”. Hal inilah yang menurut Ninok dan buku Shallows tadi dengan CPA (Continuous Partial Attention : keterpecahan konsentrasi secara terus menerus) atau Syndrome Partial Attention.

-Continuous Partial Attention-
          Inilah yang sekarang dialami banyak orang. Keterpecahan konsentrasi, kurangnya kedalaman berpikir, fokus sering berpindah pindah dari satu subjek ke subjek lain. Satu belum selesai, pindah ke lainnya. Tantowi Yahya yang juga salah seorang anggota DPR mengusulkan, “Kalau begitu saat mengerjakan sesuatu kita mesti menutup BB ya?”. Dijawab oleh Ninok “ So, What the point of having BB?” “Bukanlah BB dimiliki untuk tujuan kecepatan ?”  “Kalau BB disingkirkan sementara kan lebih baik kembali pada masa hidup sebelum punya BB?”.

          Inilah paradoks kemajuan, seperti yang diilustrasikan dengan rumah ber AC di awal tulisan ini. Membangun rumah berdinding rapat, membeli AC kemudian berselimut tebal. Kita membeli BB agar pekerjaan cepat, tapi ternyata malah menimbulkan CPA, maka sesekali BB harus di silent atau dibalik (supaya kedipannya tidak mengganggu konsentrasi kita). Pada ujungnya, lalu apa gunanya punya BB kalau harus disingkirkan pada waktu tertentu? Bukankah BB memang ada untuk kecepatan respon dan tindakan?.

          Semua terpulang kepada kita, apakah akan dikendalikan atau mengendalikan gadget. Apakah mensyukuri pemberian Tuhan atau masih ingin lebih seperti lainnya. Penulis sendiri sudah memutuskan untuk kembali disiplin membuka inbox email 2-3 kali sehari dan TIDAK HARUS MERESPON BB SAAT ITU JUGA. Teknologi adalah pencapaian akal manusia, akal manusia adalah karunia Tuhan. Kita memang patut mensyukuri kemajuan teknologi yang memudahkan kita menjalani hidup. Namun jangan sampai kemudahan ini mengurangi harkat kemanusiaan kita.

Selasa, 10 Januari 2012

Sayonara Jahiliah

video


Senin, 09 Januari 2012

-ROUTINIZED TRAP-


Alias Jebakan Rutinitas, hal yang seringkali dirasakan oleh para pegawai kantoran atau terkadang PNS, masuk jam 7 atau 7.30 pagi dan pulang sekitar jam 2-4 sore. Dengan aktivitas yang sama dengan kemarin dan kemarin nya lagi. Beberapa hari ke depan pun juga masih melakukan aktivitas yang sama atau hampir sama. Begitulah, berulang dan berputar. Sampai nanti waktu pensiun tiba, terus dan terus seperti itu....

Jikalau PNS nya yang ‘gerak‘ kayak guru atau tenaga medis, kayaknya lebih enak, lha yang di kantor, duduk manis melipat siku or menatap layar PC yang gak mau juga tersenyum (emang PC bisa tersenyum??) walau yang di depannya udah cantik or cakep gak karuan (pegawai tadi maksudnya)...haha. Itu berarti Anda harus segera menyelamatkan diri anda sesegera mungkin. Kok bisa? Pasalnya segala hal yang diam‘ itu tidak akan baik untuk masa depan kita. 

Kalau mau dilihat lebih dekat, para pekerja dengan pekerjaan yang rutin seperti itu kebanyakan pelariannya kepada games or nge gosip ria kesana dan kemari. Mendingan yang di kantornya ada fasilitas jaringan LAN atau dia yang gak gaptek2 banget mau buat membeli modem, bisa searching kemana mana. Menambah ilmu terutama akses berita dunia dan lokal yang terupdate, mencari jawaban atas pertanyaan yang berseliweran berkali – kali di benak kita (tanya mbah Go*gle aja) bahkan bisa menambah teman juga...haha alias menggunakan jejaring sosial kayak bukuwajah, suratyah*o dsb. But, di beberapa kantor ada yang memperbolehkan ada juga yang tidak memperbolehkan beberapa jejaring sosial dengan alasan mengurangi keseriusan dan fokus kerja. Okay, disini kita gak akan bahas boleh tidaknya fasilitas tersebut digunakan pada jam-jam kantor, but kita kembali membahas impact –jam nganggur-  ke masing masing pekerja tadi. OK Check it out.!!

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihat supaya menetapi kesabaran. 
“(Q.S. Al-’Ashr : 1-3)

Manusia memang benar benar dalam kerugian jika dia tidak menfaatkan waktu yang dia miliki sebaik mungkin, pertanyaannya sebaik apa??? Beberapa orang beranggapan sudah menggunakan waktunya sebaik mungkin dengan ukuran baik menurut kebanyakan orang. Jika seseorang tersebut berada dalam situasi dan lingkungan yang tidak mendukung (baca : buruk) dan kebetulan dia juga memilih berpikiran sama dengan kawan-kawan di sekitarnya. Maka....... sudah dapat dipastikan waktunya terbuang sia-sia. 

Kembali kita hubungkan dengan para pekerja rutin yang telah kita singgung di atas, jika terus menerus menganggap ‘ya beginilah kerjaan kantoran...’ atau ‘mau gimana lagi wong semua orang melakukan hal yang sama..’ atau lebih parahnya ‘ngikut temen-temen aja deh biar dianggap cepet beradaptasi...’ Wah..ini dia yang membuat orang – orang cerdas lulusan Unair, ITB dan ITS dan lain-lainnya menjadi tidak cerdas lagi (pinjem kalimat pak Rhenald Kasali dalan JP). Menikmati, itu tadi salah satu hal yang saya rasa berperan besar dalam menghilangkan jejak – jejak kecerdasan dari beberapa lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia tersebut. Sepintar dan secerdas apapun (bedakan antara cerdas dan pintar) seseorang jika dia kehilangan ‘sense of struggling’ maka kedua hal tadi juga akan ikut meluntur. Ketika mau menjalani kilas balik bagaimana dulu usaha mereka menapaki terjalnya persaingan masuk perguruan tinggi hingga dia dinyatakan sebagai alumni perguran tinggi, tentunya tidak lepas dengan ‘sense of struggling’ tadi. Iklim antara rekan – rekan mahasiswa dan iklim belajar menjadi salah satu penentunya. Ketika telah berada di lingkungan kerja yang tentu saja berbeda (apalagi yang berada di kantoran tadi dan beberapa pekerjaan tetap) kadang kita tidak menemukan suatu tantangan disana..wong kerja rajin dan gak rajin juga sama aja gajinya...mending pakai prinsip ekonomi (kagak bener nih pola pikirnya, masak pengen keluarin tenaga sekecil mungkin buat dapat hasil segedhe mungkin..??). Tapi itulah kenyataannya. 

Ada beberapa hal yang saya rasa tetap bisa menjaga sense of struggling kita, jika kita tetap memiliki sense of struggling tadi, routinized trap gak akan bisa merampas kehidupan kita yang sangat berharga ini, yaitu ide dan kreatifitas.
1.       Memiliki target / peta hidup / prioritas
Dengan peta hidup akan lebih tertata capaian masa depan kita, mengambil sesegera mungkin kesempatan yang ada hubungannya dengan cita kita dan meninggalkan segala hal yang bakalan merancukan cita kita. Dengan peta hidup ini juga akan dapat kita definisikan seberapa persen kita harus konsen di ‘pekerjaan rutin’ kita dan konsen juga di targetan kita lainnya.
2.       Biasakan tidak menikmati
“Ketahuilah bahwa kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang terluang, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya dan jika engkau punya tugas selesaikanlah segera.” (Hasan Al Banna). Setiap merasa kita ‘santai’ dalam pekerjaan kita, segeralah cari kesibukan lain untuk mengisinya. Meningkatkan kapasitas otak, menulis, atau bahkan membuka peluang usaha lainya (berbisnis).
3.       Berusaha men-split waktu
Mensplit waktu kita menjadi sangat-sangat padat, mencari kesibukan di luar pekerjaan rutin kita. Bukan bermaksud mencari ‘ceperan’ lebih, tapi untuk menjaga si otak terus sibuk dan menambah rumit jaringan ‘kabel’ di otak kita. Perlu ‘sedikit’ kelebihan untuk dilakukan daripada kebanyakan orang untuk menjadi orang sukses.

Selamat mencoba. Wallahu a’lam



Selasa, 15 November 2011

Nah Loh..?? Sekarang apa nanti ??


Haha...
Sarjana, sebutan sarjana memang punya dua rasa, senang karena telah menyelesaikan satu amanah yang diberikan orang tua, agama dan bangsa kita tentunya....tak semua orang bisa kuliah, maka yang kuliah bersungguh sungguhlah...
Di rasa yang satunya, begitu miris...karena dengan gelar sarjana tak juga menjamin penghidupan yang layak. Tak layak menurut persepsi orang - orang tentunya. Sarjana, yah paling muda sekitar usia 22 -24 tahun an, usia yang masih suka 'berpetualang', bekerja dengan caranya, idealis, kritis. Mereka dihadapkan dengan tuntutan 'mengembalikan' biaya studi selama 4 tahun (kalau cepet) dan 'membantu mengentaskan' anggota keluarga lainnya...
Memang benar sih sebenernya, kontribusi anda ditunggu nak...!!
Tapi ketika berujung pada 'paksaan' untuk menjadi 'mapan' ala orang lain tentunya juga tidak enak dirasakan banyak sarjana, dan yang paling terkena imbasnya adalah para aktivis enterpreneur alias wirausahawan (profesi yang paling kutakuti, coz pernah merasakan kegagalan). dengan berbagai komen yang mampir di telinga mereka 'jauh-jauh kuliah studi X kok ujung ujung nya wirausaha ???" "eman dong kuliahnya jauh jauh kesana, kerja nya malah gitu aja, mendang gak usah kuliah.." dan banyak deh.........

Be a success entrepreneur kudu bisa lewatin dulu ujian ini
Biarin lah apa kata Oprah...eh salah kata orang...
Entrepreneur pastinya adalah sosok yang 'berani' berani berbeda dan berani membuat mimpinya sendiri
Ketika citanya sudah lekat di bidang ini, so mau gak mau dia kudu nyiapin seabreg planning A-Z, planning GAGAL, GAGAL dan SUKSES....
Kenapa kata-kata GAGAL di dahulukan? karena SUKSES nya di akhir....
Sebagai hasil akhir, insyaAllah...nantinya pasti SUKSES.....

Bahkan jika kita melihat, para anak pengusaha sukses di negeri ini yang jumlahnya seperti kurva dengan kemencengan (skewness) di kiri, dengan absis nya adalah tingkat ekonomi semakin ke kanan semakin tinggi dan ordinatnya adalah jumlah penduduk indonesia. Maka kita lihat dengan jelas bahwa semakin ke kanan semakin melandailah kurva ini, alias, jumlah orang yang sukses atau bahkan sangat sukses di Indonesia itu ada beberapa namun sangat sangat sedikit...itupun masih di pegang oleh orang-orang dengan nama keluarga tertentu yang berturut-turut menyandang gelar itu dalam kurun waktu yang cukup lama...
Ketika ditanya, anak-anak mereka gimana cara mendidiknya? tentu beda dengan anak anak orang biasa di Indonesia lah, semenjak kecil mereka sudah ditanamkan untuk mandiri, dan tentunya tetap menjadi WIRAUSAHA.....dimanapun studinya (walaupun kebanyakan emang diarahkan ambil studi ekonomi dkk) mereka tetap bertahan di posisi mereka alias hidup secara WIRAUSAHAWAN...!!

Huh miris sekali dengan diriku yang sekarang masih berjuang untuk bisa mencintai bidang ini, dengan beberapa hal yang ku temui di akhir2 tahun ini agaknya pemikiranku sudah mulai perlahan berubah..

Susah sekali memang merubah pola pikir yang diwariskan semenjak jaman baheula bahwa jadi pegawai itu enak, bisa diatur pengeluarannya, jelas dapetnya, bla bla bla...kalo kata kata ini diberikan ke anak anak yang super kreatif, ya gak mempan lah...wong pegawai itu dapetnya cuma segitu, gak bisa lebih, so anak anak kreatif atau entrepreneur itu berpikir lebih bakalan bisa dapet lebih banyak...!!! baik dari segi uang maupun kematangan hidup...
Contoh nyata Rasulullah SAW menjadi pribadi yang begitu agung dan bijaksana karena salah satu fase hidup beliau dilewati dari sini, berwirausaha. Dengan wirausaha beliau tetap bisa survive dalam kehidupan dunia dan ukhrawinya, ekonomi jalan, dakwah jalan...sambil dagang sekalian menyampaikan Islam, ajaran Islam..

Sayangnya menurut data HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dari total 70 juta anak muda di Indonesia, diperkirakan hanya 10 persen yang berminat ber wirausaha *. Kamu termasuk gak ya...??? Ketinggalan jauh di banding negara tetangga Asia lain. Di Malaysia, 22% pemuda berminat menjadi pengusaha. di Thailand 30% dan Taiwan 34% **. 
So....what must I do....??? Re thinking about entrepreneurship...!!

Salut dengan salah seorang pengusaha sukses Indonesia sekaligus mantan wakil presiden RI, beliau membagikan ilmunya tentang  pengalaman berwirausahanya lewat komik, yap bener banget, beliau membidik anak anak usia sekolah yang masih kecil2. Tentunya dengan harapan semakin kecil diajarin, semakin matang nantinya...Hmm..secara gak langsung (mungkin) beliau mau nanamkan pikiran ke anak anak kecil itu biar nantinya merekja bisa bilang 'tinggalin aja deh orang - orang lama yang masih berpikiran kalau wirausaha itu gak gaul bin gak keren...'

Yang agak sayang di Indonesia ini adalah masalah permodalan, belum ada permodalan yang sistematis disiapkan negara untuk mendukung munculnya wirausahawan muda, so jadi gak salah jika kita mikirnya, cari modal dulu baru jadi wirausahawan. Betul gak..?? Negara masih baru berada dalam tahap 'mewacanakan tumbuhnya wirausahawan muda' beberapa yang mereka lakukan adalah lewat event2 melalui jalur akademik di kampus2, ada lomba bisnis plan, PKM, dan sebagainya. So bagi yang masih mahasiswa beruntung banget kalian masih bisa bereksperimen usaha dengan dimodalin...!! Sempat juga beberapa kali penulis mendapatkan modal dari beberapa karya tulisnya semasa di kampus, namun sayangnya dulu belum terlalu sreg dan paham tentang entrepreneurship ini, jadi ya......begitulah...

Sekarang kembali lagi ke judul awal, sekarang atau nanti..?? terserahlah yang penting berpikirlah dari sekramg bahwa harus berwirausaha, Indonesia sekarang butuhnya bukan (belum butuh) banyak pegawai coz belum bisa menghidupi mereka, secara mana ada negara sanggup menghidupi seluruh warganya...?? sekarang aja utangnya tambah besar karena sistem kepegawaian yang ga rapi gitu...
Yang paling penting lagi, bukti cinta kita pada negara yang direbut dengan susah payah dan merdeka tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 ini bukan dengan hanya menunggu apa yang kita dapat dari dia (Indonesia) tapi berpikirlah bahwa 'inilah yang kulakukan buatmu Indonesiaku.......!!!'
Baru setelah berpola pikir seperti itu kita buktikan langkah kita untuk berwirausaha, dalam kesempatan dan dalam hal apapun....sekarang ini lagi maraknya bisnis IT, jadi tertarik mencoba, belajar dulu lah minimal.......

Mari kawan, semangat BEKERJA untuk INDONESIA.....!!



Kamis, 10 November 2011

Nasibmu oh Atasan..... ^_* v

Seminggu penuh mulai ku rapatkan jadwal biar bisa pulang di hari itu, 6 November 2011. Apalagi kalau bukan untuk ber Idul Adha dengan keluargaku...hmm....senengnya... Sayang tak semua keluargaku berkumpul di hari itu, tetua suku (kakak) ku sedang di 'tahan' di kantornya, deadline katanya.


Haha...mudik Sabtu, puasa Arafah ntar buka puasa makan apa ya..??
Terbayang es degan nya ibu or jus markisa yang metik langsung di belakang rumah, bertakbir ria dengan si Bontot (adek) ku.....hmm...akhirnya terlelap sepanjang perjalanan dengan kang HanJa* langgananku. Adakah kalian tahu, siapakah kang HanJa itu ?? Yuks...tebak dulu deh...

Alhamdulillah...di Sabtu ceria itu bisa mbolang kemana-mana...pasar, nenek, anterin bapak dan ke skul ku tentunya, salim saliman ma guru MtsN ku....Wow, unpredictable.... they're so dramatic looking on me (bener gak ya bahasanya...) secara dulu pernah jadi murid ter'......... Hmm...charge yang tiada bandingnya...keluarga tetaplah yang utama, suatu saat aku bersiap menetap di kota kecilku ini.


Betewe, apa hubungannya dengan judul bawahan??
Hahaha...di Ahad yang ceria diiringi takbir yang bergema semenjak maghrib malam kemarin, langit ternyata sedang galau gundah gulana menyimpan beban air yang begitu banyaknya. Langit merengut karena kelebihan beban yang oleh orang di tempatku disebut 'mendung'...kasian kau langit...sini..sini..tumpahin aja tapi ntar setelah kami selesai sholat Id ya.....
Aku pun berangkat berdua dengan si Bontot, aduh, namanya juga adek cowok, tingginya diatasku, jadilah aku seperti adeknya, padahal usia kami terpaut 7 tahun...akhirnya ya.....begitulah, dia tak mau jalan berjejer ma mbak semata wayangnya ini....(capek deh...diajak bareng malah gak barengin...).
Tumben banget hari ini bagianku opyak2 orang2 rumah buat cepetan 'ayokk...telat nih...!!' padahal biasane yo.... anda tahu maksudku..
Langsung kucomotlah mukena yang sejak pagi kusiapin ma ibuku, rencananya beliau mau shalat berdua ma bapakku di skul aja...so, kami gak jadi pakai mukena 'kembar' kami. Ibu pakai yang lain saja ya, yang ini lo lebih bagus....kataku pagi itu. Sip...akhirnya aku dan Si Bontot berangkat berdua dengan membawa berkat** tentunya buat dikumpulkan di masjid. Wohh...jam segini, cepetan Tot...!! Hah..perjalanan tak lagi indah karena lari2 kecil aku ngikutin jejak kaki si Ntot yang lebar...

Di dekat masjid, sudah mau takbiratul ihram lagi, berkat ku tak kasihkan si Ntot dan aku segera masuk barisan ibu-ibu...Alhamdulillah batinku, belum mulai...langsung tak pakai dah mukena yang dipilih2 ma ibuku tadi pagi, atasan, sret...sret...beres.....! ayok bawahan, tak buka lipetan dan....dan......
Lhoh? atasan lagi???
bawahana nya mana???
Tuing2...celingak celinguk mau lari ke tempat mukena masjid buat pinjem bawahan, wah gak mungkin, mepet dan ngelewati orang bejibun gitu, ditimpuk sandal aku ntar.....
Hahah piye piye....??

Tau ah...pakai kaos kaki aja, wong baru ganti juga pagi ini...hah jangan ahh...ntar ku dikira aneh lagi, secara disini belum ada yang model begituan (sholat pakai kaos kaki dan kerudung langsungan).
How..how....??
Aha...!!! ting.. ting..!!

Dengan terpaksa tak pakai itu atasan buat bawahan ku ahaha.....caranya ?? gampang saja, iket aja bagian bawah atasan (mesti yg baca bingung...praktekin aja lebih gampang ^_^) trus langsung takbir dah....masih nututi kok.....lancar jaya, untung aja gak lepas ikatannya.

Enak2 dengerein bacaannya imam, baru inget kunci ma uang ku belum tak amankan bawah sajadah (aduh, asy syaithon nirrojimm.....nganggu dari berbagai cara, gak khusyu' blas,,,lha wong, kunciku di lemparin ke luar pager ma anak tetangga shaf sholatku trus uangnya diambil dengan lugunya sambil berkata gini 'wah,ada uang, nemu nemu....hahha....) selepas salam tuh anak masih cekikikan di samping ku...dengan wajah memelas tak cari kunci itu...untung ketemu...

lha uang buat infaqnya??

dengan memelas (lagi) tak minta (baik-baik) ke anak2 itu.....hehehe karena wajahku lebih melas daripada mereka berdua, dikasihkanlah itu duit...(aduh...kayak pemalak gini jadinya, padahal mestine nek diambil mereka ya biarin aja, tapi nek digawe tuku mercon***?? hayuo...emoh yo...). Disaaat aku bersyukur semua barangku kembali, ibunda sang bocah cilik berteriak dengan suara menggelegar, waduh, bisa hujan deras langsungan nek gini. ternyata bocah2 cilik tadi dimarahi gara2 mainin kunciku...udah buk...udah...sanggah ku membela si bocah....tapi langsung digendong pulang tuh bocah..yah....gimana lagi??
Hmm aku duduk diam lagi di tempatku, gak beranjak sebelum yang lainnya pergi dulu...isin rek..bawahan ku bentuk nya aneh, mau tak lepas ntar ae nek dah sepi......

Alhasil,beres deh...aku melenggang pulang sendirian karena 15 menit nunggu adek ku di pinggiran jalan mesjid gak nongol2 tuh anak...
Ya Allah..alhamdulillah..kekonyolan hari itu membuatku semakin bersemangat tinggal di kota ini...(hubungannya apa neng ..???!!)

Betewe aniwe...gimana dengan nasib 'kembaran' mukenaku?? tenang aja...ibuku gak jadi pakai kok...coba aja nek beliau pakai...waduh...bawahan dan bawahan yak apa nyiasatin pakainya...(ngakak waktu bayangin, hush...gak sopan...hehehe piss buk...)


* HanJa = Harapan Jaya (nama bus)
** berkat = nasi buat selamatan di hari2 khusus, lauk pauk kayak nasi rames gitu
*** mercon = petasan
Mari Budayakan Baca dan Tulis Hingga Akhirnya Memberikan Kemanfaatan Untuk Orang Lain. Diberdayakan oleh Blogger.

Photographs Lovers

Loading...

Labels

Apa yang paling membuat Anda bersemangat ?

Blogger Spirit !!

JANGAN PERNAH MENGANDALKAN KEMAMPUAN ORANG LAIN DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN, LAKUKAN AMAL SEKECIL APAPUN,DAN SENANTIASA MANFAATKANLAH WAKTU... MQy16052012